Selama pandemi terjadi di seluruh dunia, dunia bisnis pun ikut terkena dampaknya. Kita dipaksa unuk bertahan meskipun hal tersebut berarti mengubah beberapa hal yang sebelumnya sudah terjadi. Termasuk beberapa marketing brand yang pada akhirnya ikut berubah untuk bertahan di tengah-tengah pandemi seperti ini. Apa yang dapat kami lakukan untuk membantu perusahaan tumbuh lebih cepat? Dan bagaimana pemasaran didefinisikan ulang di era Covid-19 ini? Penting bagi kita untuk mengetahui apa saja perubahan-perubahan yang terjadi akibat pandemi ini agar bisnis kita dapat bertahan hingga bertahun-tahun kedepan dengan situasi seperti ini.

Anda tidak lagi bersaing dengan kompetitor

Jika sebelumnya Anda bersaing dengan kompetitor Anda, maka sekarang tidak lagi. Anda akan bersaing dengan pengalaman terbaik terakhir yang dimiliki pelanggan Anda. Ekspektasi konsumen akan meningkat dengan adanya pandemi seperti ini. Mereka berkspektasi atau menginginkan transformasi yang cepat dalam hal apa yang dapat dilakukan perusahaan untuk mereka dengan pengalaman yang lebih digital dari sebelumnya. Konsumen mengharapkan lebih dari sekadar transaksi digital seperti yang sebelumnya. Mereka menginginkan sesuatu yang lebih yang bisa diberikan oleh perusahaan terhadap konsumennya, mereka menunggu langkah apa yang akan perusahaan ambil dalam rangka menghadapi pandemi sekaligus tetap memberikan yag terbaik pada konsumennya. Mereka menginginkan pengalaman antisipatif yang dipersonalisasi.

Perusahaan harus mengikuti tiga strategi berikut ini untuk memastikan pengalaman mereka memenuhi ekspektasi pelanggan yang dengan adanya pandemi ini menjadi meningkat:

  • Gunakan real-time analytics untuk mengumpulkan data pelanggan.
  • Bangun fondasi data dan teknologi yang tepat untuk menunjang kinerja.
  • Selaraskan tujuan individu dan kolektif seperti pemasaran, penjualan, dan pelayanan pelanggan agar bisa dinikmati oleh konsumen Anda dari awal hingga akhir.

Mengetahui segmen customer

Pandemi Covid-19 telah membuat hampir semua brand harus berkomunikasi dengan istilah yang sangat sederhana dan tepat agar lebih mudah dimengerti oleh masyarakat, selain itu brand juga harus bisa menargetkan konsumen tertentu berdasarkan keadaan mereka dan apa yang paling relevan bagi mereka, yang berarti Anda harus mengetahui dan menguasai situasi yang terjadi di lapangan.

The EY Future Consumer Index, yang telah melakukan lima gelombang penelitian dengan 14.500 orang di 20 negara sejak dimulainya pandemi, telah mengidentifikasi lima kelompok konsumen yang berbeda:

Affordability (32%): Sebanyak 32% memilih untuk mementingkan keterjangkauan suatu produk dibanding faktor lain seperti merk atau dampak produk tersebut terhadap lingkungan. Mereka hidup sesuai kemampuan dan anggaran mereka, kurang berfokus pada merek dan lebih memilih pada fungsionalitas suatu produk.

Health (25%): Mereka memilih produk yang mereka percaya aman dan meminimalkan risiko dalam cara mereka berbelanja. Mereka mempertimbangkan perlindungan kesehatan mereka dan keluarga mereka sebagai faktor utama mereka dalam membeli suatu produk.

Planet (16%): Sebanyak 16 % memilih untuk melindungi planet dan lingkungannya terlebiih dahulu sebagai faktor utama sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk. Mereka mencoba meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan dan membeli produk yang mencerminkan keyakinan mereka tersebut.

Society (15%): sebanyak 15% memilih untuk membeli suatu produk dari organisasi yang menurut mereka jujur ​​dan transparan. Mereka menganggap hal ini adalah bentuk kerja sama untuk kebaikan yang lebih besar.

Experience (12%):  sebanyak 12% memilih untuk living in the moment. Hal itu membuat mereka terbuka terhadap produk, merek, dan pengalaman baru. Mereka hidup di suatu momen untuk memanfaatkan kehidupan sebaik-baiknya dan mendapatkan pengalaman sebanyak-banyaknya.

Memanfaatkan segmentasi pelanggan dan persona dapat membawa wawasan yang lebih dalam tentang strategi media dan pendekatan pemasaran kreatif. Lebih baik lagi, wawasan ini dapat digunakan untuk menginformasikan keinginan dan pilihan pelanggan secara lengkap.

Kepercayaan adalah segalanya

Tak perlu diragukan lagi bahwa sangat penting untuk membangun hubungan dengan pelanggan berdasarkan kepercayaan. Tetapi pandemi ini telah menempatkan penekanan baru pada hubungan, terutama dalam penjualan B2B. Perusahaan dihadapkan pada lingkungan penjualan yang virtual. Hal tersebut menjadikan kegiatan mencari pelanggan baru membutuhkan serangkaian keterampilan yang berfokus pada solusi yang ditawarkan, bukan produk. Untuk memimpin penjualan dan pemasaran di perusahaan B2B, kepercayaan dan integritas sangat penting untuk mendorong momentum pasar. Kepercayaan akan terjalin dan dihargai oleh mereka yang mendengarkan kebutuhan pelanggan dan menciptakan solusi untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Dalam konteks B2C, kepercayaan juga memainkan peran yang sangat penting. Kepercayaan merupakan dasar dari pertukaran nilai antara perusahaan dan konsumen. Karena perusahaan semakin bergantung pada data pribadi yang mereka peroleh dengan persetujuan konsumen, mereka tidak hanya harus mematuhi peraturan tentang privasi konsumen dan memastikan bahwa data aman, tetapi mereka juga memiliki kesempatan untuk memberikan solusi kepada konsumen mengenai apa yang dibutuhkan oleh mereka berdasarkan data yang mereka miliki.

Marketing yang baru setelah adanya pandemi ini mewujudkan perpaduan, menyoroti pertemuan strategi, dan teknologi yang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan di dunia pasca-Covid-19. Untuk perusahaan dan marketer yang terbiasa dengan cara lama, periode penyesuaian sedang berjalan. Kita harus memprioritaskan perspektif pelanggan sekarang, selanjutnya, dan seterusnya di atas segalanya.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *