4 Kesalahan Branding Yang Sering Dilakukan

4 Kesalahan Branding Yang Sering Dilakukan

Apakah kamu adalah pemula dalam dunia bisnis? Jika iya, apa sajakah kesulitan yang kamu alami selama fase permulaan ini? Memperoleh profit? Meningkatkan sales? Mendapatkan customer? Well, sebenarnya kamu akan mendapatkan tidak dalam tempo waktu dekat, tapi membutuhkan waktu yang cukup lama. Mengapa? Karena, bisnis itu tentang konsistensi, begitu pula dengan strategi branding-nya.

Berbicara strategi branding, hal yang satu ini merupakan sesuatu yang krusial. Seperti yang kita tahu, bahwa branding adalah serangkaian proses memperkenalkan bisnis kepada audiens dengan cara yang kreatif lewat beragam komponen dari merek bisnis tersebut alias brand. Untuk membangun branding, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, lho.

Tidak bisa dipungkiri sebagai pemula tentunya kita ingin mencoba segala macam cara atau langkah, ‘kan? Bisa jadi, ini karena kita masih berpikir bahwa saat menjadi pemula, banyak cara ditempuh untuk menjadi “patokan” mana yang paling sesuai dengan karakteristik bisnis kita. Namun, ada kalanya melakukan hal ini justru akan menjadi boomerang bagi kita berupa kesalahan branding. Bukannya untung, malah jadi buntung!

Berikut adalah kesalahan branding yang tanpa kita sadari sering dilakukan.

Hanya berfokus pada logo dan warna

(sumber: unsplash.com)

Siapapun yang baru pertama kali terjun ke dunia bisnis, penentuan logo dan warna adalah yang pertama dilakukan—saat sudah menemukan nama brand tentunya. Sebagai perwakilan utama dari brand, logo membawa citra dari brand itu sendiri. Bukan hanya logo, melainkan warna juga menjadi ciri khas dari brand. Karena, akan berpengaruh terhadap konsep branding yang dilakukan.

Padahal, ada komponen brand lainnya yang juga harus diperhatikan. Mengutip Forbes, komponen brand lainnya adalah pesan, nilai-nilai, slogan, hingga campaign. Komponen-komponen tadi merupakan bagian dari strategi branding—yang mana harus dioptimalkan demi kesuksesan branding.

Memastikan semua orang menjadi target audiens

(sumber: unsplash.com)

Sama halnya seperti sedang berjualan handphone, misalnya. Memang, semua orang menggunakan handphone, tapi apakah mereka sudah dipastikan memakai handphone yang sama persis? Tentu tidak, ‘kan? Maka dari itu, mengetahui dengan pasti rentang usia audiens adalah hal mendasar yang harus ditentukan sebelum memulai branding.

Melansir Your Passion Based Business, saat memulai strategi branding, menargetkan semua orang menjadi target audiens kita adalah mungkin. Mengapa? Hal ini disebabkan kecenderungan kita untuk dikenal oleh banyak orang—semakin luas semakin bagus. Karena alasan inilah, branding yang dilakukan mengalami lost of sense. Tidak tahu mana yang sesuai dengan kita, mana yang tidak.

Melupakan pesan campaign yang sedang dijalankan

(sumber: pexels.com)

Memang, dari awal sebelum strategi branding dilakukan, pesan dan slogan campaign menjadi pondasi utama dalam menyusun teknis dan langkah. Campaign dianggap krusial karena mengandung pesan yang harus disampaikan kepada audiens terkait bisnis. Seperti halnya Gojek dengan pesan campaign #PastiAdaJalan, seluruh branding yang dilakukan Gojek memang berdasar pada nilai-nilai di dalamnya. Dari branding secara online sampai offline, semuanya mencerminkan pesan dari #PastiAdaJalan tersebut.

Begitu pula dengan kita sebagai pemula. Apa pesan yang ingin brand kita sampaikan? Konsep campaign seperti apa yang ingin kita bawa? Apa goals bisnis yang mau kita capai dalam beberapa waktu ke depan? Semua ini, ditentukan dari pesan, campaign, dan slogan yang saat ini sedang kita lakukan.

Mengabaikan alasan di balik brand existence

(sumber: pexels.com)

Pernahkah kamu mencari tahu alasan di balik hadirnya brand kamu di pasaran? Well, itulah yang sebenarnya harus diperhatikan sebelum memutuskan untuk branding. Tentunya, brand hadir untuk menjadi solusi dari masalah yang dihadapi orang lain, ‘kan? Namun, bagaimana kamu mengemas penyelesaian masalah tadi menjadi sebuah solusi yang strategis, berhasil bagi mereka?

Mengabaikan alasan di balik brand existence yang dianggap menjadi salah satu kesalahan dalam branding, menurut Outbrain. Menyeleraskan antara alasan di baliknya hadirnya brand dengan cara memperkenalkan solusi tersebut melalui serangkaian strategi branding, adalah teknis yang seharusnya tidak boleh dilupakan.

Keempat kesalahan tadi memang seringkali kita jumpai saat pertama kali melakukan strategi branding. Namun, bukan berarti kesalahan tidak bisa diperbaiki, ‘kan?

Ingin mengetahui lebih lanjut tentang strategi branding yang cocok untuk bisnis kamu? Konsultasikan ke kami sekarang juga melalui e-mail cs.melonbranding@gmail.com atau kunjungi Instagram kami di @melonbranding!

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *