fbpx

Melon Branding

Nama brand ‘Polytron‘ pastinya gak asing di telinga. Sayangnya, kejayaannya yang dulu melegenda semakin surut akibat inkonsistensi brand Polytron. 

Brand asal Indonesia ini berada di bawah naungan PT Hartono Istana Elektronik (HIE) yang berlokasi di Kudus, Jawa Tengah. Polytron dulunya dikenal sebagai salah satu brand elektronik ternama yang merajai pangsa Nasional. 

Namun, beberapa terobosan dari Polytron justru menunjukkan inkonsistensi brand yang berimbas pada kegagalan. Apa bentuk inkonsistensinya dan bagaimana pengaruhnya terhadap PT HIE? Mari kita pelajari bersama!

Sejarah PT Hartono Istana Elektronik

Sebelum mempelajari kegagalan akibat inkonsistensi brand Polytron, yuk cari tahu sejarah PT Hartono Istana Elektronik di bawah ini. Didirikan pada tanggal 16 Mei 1975, perusahaan ini mulanya merupakan ekspansi dari pabrik rokok PT Djarum Kudus ke ranah elektronik. Perusahaan yang didirikan oleh Hartono bersaudara, Robert Rudi Hartono dan Michael Bambang Hartono ini mulai berproduksi pada 8 September 1975. 

Selang dua tahun, PT HIE mulai mendatangkan komponen dari Belgia untuk memulai proses alih teknologi dari Philips-MBLE Belgia dan meluncurkan produk televisi pertama dengan merek Polytron.

Agak disayangkan, produk pertama gagal di pasaran lantaran ukurannya yang terlalu besar dan ketidakpraktisannya dalam hal pengeras suara. Bertekad belajar dari kesalahan, PT HIE beralih dengan menggunakan teknologi komponen dari Hongkong. 

Selanjutnya, mereka meluncurkan televisi hitam putih 20 inchi yang mulai diterima di pasaran. Untuk keperluan ahli fungsi, PT HIE pun bekerja sama di perusahaan televisi asal Finlandia, yaitu Salora yang kini berubah nama menjadi Nokia.

Kejayaan Brand Polytron

Setelah sukses dengan produk televisi yang diterima di pasaran, PT HIE mencoba peruntungan dengan memproduksi barang elektronik lainnya, mulai dari produk video, audio, mesin pengatur suhu udara (AC), kulkas, dan pompa air. Produk yang diluncurkan pada tahun 80-an ini laris di pasaran, terutama produk audio, contohnya tape compo yang didukung dengan suara bass dan treble.
Produk audio Polytron dengan Bluetooth Multimedia
ilustrasi produk audio brand Polytron
Ketika krisis ekonomi melanda Indonesia, PT HIE berfokus pada mempertahankan brand Polytron dibandingkan dengan brand-brand lain yang diproduksi. Selain itu, produk audio visual ini pun semakin dikembangkan dengan memoerdalam riset pasar.

Inkonsistensi Brand Polytron

Menginjak tahun 2000-an, Polytron mulai merambah produk rumah tangga, seperti mesin cuci dan dispenser. Hal ini rupanya menjadi buah simalakama lantaran menunjukkan inkonsistensi brand Polytron. 

Memasuki tahun 2011, Polytron mulai menggarap pasar handphone.  Smartphone Prime 5 merupakan flagship produk pertama dari Polytron Smartphone. Selanjutnya, PT HIE merilis smartphone Zap 5, smartphone 4G LTE pertama yang dirilis tahun 2015. 

Tak hanya itu, perangkat lunak Fira OS hadir pada tahun 2016 dan smartphone Prime 7 Pro pada tahun 2018. Produk terbaru yang dirilis adalah motor listrik Polytron EVO.

Perempuan memegang ponsel buatan Polytron
ilustrasi produk smartphone brand Polytron
Dengan mengusung slogan ‘Memang Canggih’ sejak tahun 2011, Polytron nampak menunjukkan pengalaman dan intelektualitasnya pada produk elektronik. Sayangnya, pengembangan teknologi ini tidak disertai dengan riset pasar dan kompetitor. 
Padahal, Polytron seharusnya menyadari pentingnya kualitas pada produk unggulan mereka, layaknya slogan “The Sign Of Quality” pada tahun 2002-2011. Dengan meluncurkan produk baru dengan kualitas seadanya, Polytron akan mengalami kesulitan untuk diterima di pasar. 
Hal ini terlihat pada kasus smartphone. Tak sedikit produk Indonesia yang akhirnya kalah bersaing dengan produk dari brand luar negeri, seperti Evercross, Mito, dan lainnya. Begitu pun produk kendaraan listrik asal Indonesia yang kurang diminati pasar, contohnya Gesits, Selis Eagle Prix, dan Elvindo.
Hingga saat ini, brand Polytron tetap unggul, terlebih pada produk audio visual mereka. Namun, inkonsistensi brand Polytron perlu menjadi pembelajaran bagi kita untuk memahami karakteristik pasar dan positioning brand sendiri dengan brand kompetitor.  

Kesimpulan

Inkonsistensi brand cenderung memberikan dampak buruk pada keberlangsungan perusahaan. Karenanya, brand kamu perlu tetap konsisten agar dapat diterima oleh pasar.

Bagi kamu yang ingin memperkuat branding yang sudah dimiliki perusahaanmu, Melon Branding membantu sebagai partner yang bertumbuh dan berkembang bersama bisnismu. Hubungi kami lebih lanjut melalui cs.melonbranding@gmail.com atau kunjungi Instagram @melonbranding ya!
Melon 3

Want to Increase your traffic significantly ?

Every business needs more traffic for their website, which brings awareness and conversion. We know the best way through Digital Marketing activation for you.

Post Views: 760
Open chat
Welcome to Melon Branding 👋
Can we help you?